Minggu, 15 Maret 2020

Belajar di Rumah Tentang Sejarah Tradisi Islam di Nusantara

Belajar ditemani Orang Tua

Assalaamu 'ALaikum Wr. Wb
Apa Kabar D'lima Soleh
Apa Kabar D'lima Solihat
Apa Kabar D'lima Soleh Solihat ???
Semoga Kita Semua berada dalam lindungan Allah SWT dan tentunya masih diberikan kekuatan untuk melaksankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.
Untuk Materi BAB 12 Tentang MENELUSURRI TRADISI ISLAM DI NUSANTARA disajikan melaui BLOG ini, silakan kalian Cermati BAB ini mulai dari bagian A sampai dengan D
 

Rabu, 17 Juli 2019

Karakter Yang Mesti dimiliki Seorang Pengajar

Ilustarsi. Sumber : 1001topmeme.blogspot.com

Pengennya sih menuliskan semuanya COPAS langsung dari buku  hasil terjemahan Ustad Jamaludin LC yang berjudul : "Begini Seharusnya menjadi Guru" dari  judul aslinya "Al Mu'allim al-awwal (Qudwah Likulli Mu'allim wa Mu'allimah)" Karya Fuad bin Abdul AZiz. Penulis buku tersebut menyebutkan bahwa karakter yang mesti dimiliki seorang pengajar adalah :

Jumat, 31 Mei 2019

Konsinyering Pengembangan Program Dan Kegiatan PAI

Anggota Komis III

Bismillah, Bogor 31 Mei 2019
Sejak hari kemarin 30 Mei 2019 bertempat di Harris Hotel Direktorat Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama RI menyelenggarakan konsinyering pengembangan program dan Kegiatan PAI. Dalam kegiatan ini dibagi ke dalam 3 komisi, komisi pertama melakukan telaah terhadap Permendikbud Nomor 62 Tahun 2014 tentang penyelengaran kegiatan ekstrakurikuler pada pendidikan dan dasar dan pendidikan menengah. Komisi dua menelaah Keputusan Menteri AGama No. 11 tahun 2011 tentang PEDOMAN PENGEMBANGAN STANDAR NASIONAL
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA SEKOLAHdan komisi ketiga menelusuri dan menginpentarisir regulasi penunjang terkait pelaksanaan kegiatan ektra kurikuler.
Dari hasil Penulusuran komisi 3 setidaknya ditemukan 12 regulasi pendukung terkait plaksanaan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah, yaitu :

Selasa, 06 November 2018

7 Alasan Islam Mudah Diterima di Indonesia dan Faktor-faktor yang Menyebabkannya



Alasan Islam mudah diterima di Indonesia karena memiliki banyak faktor-faktor yang menyebabkannya. Peranan Wali Songo dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa juga salah satu alasannya.
Maka benar apa yang dikemukakan oleh Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, “Jas Merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah.”
Jika Anda bertanya Indonesia, jelas berbeda konteksnya dengan Nusantara. Sebab, Indonesia menjadi sebuah negara pada tahun 1945, sebelumnya Hindia-Belanda dan sebelumnya lagi berupa kerajaan-kerajaan.
Namun, sebagian besar wilayah Nusantara yang disatukan dalam Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk sebagai Kepala Negara dan Mahapatih Gajah Mada sebagai Kepala Pemerintahan, saat ini yang menjadi negara Indonesia.
Jadi, meski berbeda konteks (karena era dan zamannya berbeda), tetapi keduanya masih sangat relevan. Berikut 7 alasan kenapa Islam mudah diterima oleh masyarakat Indonesia yang dihimpun Islamcendekia.com dari berbagai teks dan sumber.

Minggu, 04 November 2018

5 Teori Masuknya Islam di Indonesia, Kelemahan, dan Bukti Pendukungnya


Masuknya Islam di Indonesia   tidak bisa dilepaskan dari sejarah perdagangan dan pelayaran antar benua yang berlangsung pada masa itu. Kendati demikian, para ahli masih bersilang pendapat tentang bagaimana proses masuknya budaya dan agama Islam tersebut hingga bisa mengalahkan kebudayaan dan agama yang telah ada sebelumnya, yakni Hindu dan Budha. Berbagai teori pun berkembang dengan disertai bukti dan fakta pendukung. Berikut ini kami telah merangkum apa saja teori masuknya islam di Indonesia tersebut lengkap dengan kelemahan dan bukti-bukti pembenarnya.


Teori Masuknya Islam Di Indonesia
Sedikitnya ada 5 teori masuknya Islam di Indonesia yang berkembang di kalangan sejarawan saat ini. Kelima teori tersebut mengungkapkan tentang asal mula Islam berkembang di Nusantara. Ada teori yang menyebut bila penyebaran Islam di Indonesia berasal dari Gujarat, India; Makkah, Arab Saudi; Persia; dan ada pula yang beranggapan Islam Indonesia berasal dari China.


Jumat, 20 Oktober 2017

Tiga Kegiatan dalam Sekolah Lima Hari: Intrakurikuler, Kokurikuler, dan Ekstrakurikuler


Jakarta, Kemendikbud -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan kebijakan sekolah lima hari dalam seminggu dan delapan jam belajar dalam satu hari mulai tahun pelajaran 2017/2018. Hal itu tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor  23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah.

"Sekolah lima hari ini merupakan bagian dari program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang di dalamnya ada tiga kegiatan, yaitu intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler," kata Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad, dalam jumpa pers di kantor Kemendikbud, Jakarta, (14/6).
Dalam jumpa pers itu, Hamid mengatakan bahwa kegiatan intrakurikuler adalah kegiatan pembelajaran seperti yang telah berjalan. Kemudian kokurikuler adalah kegiatan yang menguatkan kegiatan intrakurikuler, seperti kunjungan ke museum atau tempat edukasi lainnya. Terakhir, kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang lebih bersifat ke minat siswa dan pengembangan diri, misalnya olahraga, seni, atau kegiatan keagamaan.
Staf Ahli Mendikbud Bidang Pembangunan Karakter, Arie Budhiman mengatakan, banyak kegiatan yang dapat dilakukan sekolah dalam menerapkan pendidikan karakter melalui lima hari sekolah. Kegiatan tersebut dilakukan dengan tetap mengacu pada lima nilai utama karakter prioritas PPK, yaitu religius, nasionalis, gotong royong, mandiri dan integritas.
Menurutnya, salah satu contoh penerapan PPK secara sederhana dalam sekolah adalah dengan melibatkan siswa untuk menjaga kebersihan kelas dan lingkungan sekolah. "Siswa dilibatkan dengan cara membuat jadwal membersihkan kelas secara bergantian dan gotong royong. Dengan demikian, nilai karakter gotong royong sudah disisipkan dalam pembelajaran di sekolah," ujar Arie.



Penguatan pendidikan karakter diharapkan dapat menumbuhkan siswa dengan karakter berpikir kritis, kreatif, serta mampu berkomunikasi dan berkolaborasi, yang mampu bersaing di abad 21. (Prima Sari)
Sumber : kemdikbud

Sabtu, 14 Oktober 2017

ACEH JUARA PENTAS PAI 2017

Aceh (Kemenag) --- Kontingen Provinsi Aceh menjadi juara umum Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama  Islam (Pentas  PAI) tingkat Nasional ke VIII tahun 2017. Kegiatan ini diselenggarakan Ditjen Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama RI dari 9 – 13 Oktober 2017 di Aceh. 
Tuan rumah menjadi juara umum Pentas PAI  setelah berhasil memperoleh 18  piala lomba, terdiri dari empat piala juara I, dua piala juara II, tiga piala juara III, tiga piala harapan I, empat piala harapan II, serta dua piala harapan III.
Piala juara umum  diserahkan Wakil Gunernur Aceh, Nova Iriansyah kepada Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Aceh, Daud Pakeh pada malam penutupan yang dipusatkan di  Taman Sulthana Safiatudin  Aceh, Jumat (13/10).
Direktur Pendidikan Agama Islam Imam Safei mengatakan,  sejak dibuka  Menag Lukman  pada Senin (9/10) lalu, Pentas PAI diikuti 1.200 peserta dari tingkat SD/SMP/SMA/SMK utusan seluruh provinsi  di Indonesia.  Seluruh pelaksanaan  matalomba  berjalan lancar, meliputi: Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), lomba Pidato PAI, Musabaqah Hifzhul Quran (MHQ), lomba Cerdas Cermat PAI, lomba Kaligrafi Islam, Nasyid, Debat, dan lomba Kreasi Busana.  
Imam Safei mengucapkan selamat kepada para pemenang. Dia berharap, Pentas PAI bisa menjadi  ajang silaturahmi dan mempererat persuadaraan peserta dan antar daerah di Indonesia. “Juga sebagai evaluasi sejauhmana keberhasilan pendidikan  agama yang dilaksanakan di sekolah,” tuturnya.  
Bagi yang belum mendapat juara, Imam minta  terus  menjaga semangat untuk  mengukir prestasi di kegiatan yang akan datang. 
Sumber : Kemeneg.go.id